top of page

Migrasi Agama ke Dunia Maya

  • Dec 14, 2015
  • 3 min read

Originally published at Cermin, V, 2009

Pada penghujung tahun 1990-an, muncul sebuah fenomena baru dalam wilayah agama dan spiritualitas di masyarakat modern. Fenomena ini dapat dilihat pada fakta bahwa banyak kelompok-kelompok keagamaan , dari agama tradisional seperti Katolik sampai agama kuno seperti Zoroastrianisme, melakukan migrasi ke alam maya (cyberworld) dengan menciptakan situs-situs keagamaan mereka seperti www.ecunet.org, www.buddhanet.net, dan www.godweb.org.

Fenomena menarik ini semakin marak ketika memasuki abad ke-21. Survey-survey yang dilakukan oleh the Pew Internet and American Life Project di Amerika Serikat mendukung fenomena ekspresi relijiusitas baru ini. Pada tahun 2000, lembaga survey ini menemukan bahwa sekitar 21% pengguna internet atau sekitar 20 juta orang berselancar di dunia internet untuk mencari informasi spiritual dan keagamaan. Empat tahun kemudian, tahun 2004, jumlah ini meningkat tiga kali lipat menjadi 64% dari 128 juta pengguna internet di negeri Barack Obama ini, atau sekitar 82 juta orang menggunakan internet untuk kepentingan dan tujuan-tujuan keagamaan seperti mencari informasi tentang bagaimana tata cara beribadah.

Fenomena ini tentu saja mengejutkan atau menggembirakan bagi sebagian orang. Tulisan ini bermaksud menjelaskan migrasi agama ke dunia internet dan mengaitkannya dengan tesis sekularisasi pada masyarakat modern.

Religion-online dan online-religion

Fakta menunjukkan bahwa agama atau organisasi keagamaan menggunakan internet secara berbeda sesuai dengan tujuan dan kepentingan masing-masing. Secara sederhana, kehadiran mereka di internet dapat dibedakan ke dalam dua kategori: religion-online dan online-religion.

Pada kategori religion-online (agama-online), penganut agama atau kelompok keagamaan bermigrasi ke dunia maya dengan membuat situs-situs untuk mempromosikan agama mereka dengan tetap menjaga otoritas tradisional keagamaan mereka. Dengan kata lain, informasi, doktrin dan organisasi keagamaan yang ditampilkan dalam situs mereka dikomunikasikan secara satu-arah. Para pengguna situs jenis ini disuguhi informasi resmi dan standar tentang kepercayaan dan praktek tertentu, tetapi mereka tidak mempunya ruang untuk melibatkan diri dalam diskusi dan mengungkapkan pandangan pribadi mereka. Pemimpin formal agama biasanya mengatur dan mengawasi secara penuh arus lalu lintas situs-situs semacam ini. Informasi yang disampaikan dalam situs dikontrol sepenuhnya oleh mereka dengan menerapkan komunikasi satu-arah. Situs-situs semacam ini biasanya dibuat oleh agama-agama resmi (official religions) yang memiliki aturan organisasi yang ketat, seperti www.vatican.va, yang dimiliki oleh Katolik Roma, dan www.scientology.org, yang dikontrol oleh penganut Kristen aliran scientology.

Sementara pada kategori kedua, online-religion (online-agama), situs-situs keagamaan menampilkan diri mereka sebagai wadah bagi interaksi dua arah antara pengguna internet, pengelola situs, dan pejabat agama. Selain itu, situs-situs ini berfungsi sebagai media untuk mengekspresikan pandangan keagamaan para pengguna secara online tanpa khawatir terkena sensor atau sanksi keagamaan. Di sini web administrator (pengelola situs) hanya berperan sebagai pengatur lalu lintas komunikasi antar pengguna guna menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pemanfaatan maksimal situs mereka. Umumnya, online-religion ini dikembangkan oleh kelompok keagamaan tidak resmi (unofficial religious groups), perorangan, dan gerakan keagamaan baru (new religious movements). Tujuan mereka adalah ingin menyediakan sebuah tempat di mana para peselancar di dunia maya dapat mendiskusikan pandangan keagamaan mereka, bertukar pengalaman spiritual, dan berdoa bersama melaui media internet. Yang termasuk kategori online-religion adalah, misalnya, www.beliefnet.com dan www.spiritweb.com.

Tesis sekularisasi reconsidered

Terlepas dari perbedaan dua kategori migrasinya agama di dunia maya di atas, hal yang lebih penting di sini adalah maraknya kehadiran agama di internet dapat dipandang sebagai bantahan atau counterpoint bagi asumsi-asumsi yang dilontarkan oleh para pendukung teori sekularisasi. Ramalan mereka bahwa ketika masyarakat mengalami kemajuan, maka agama akan kehilangan peranannya, digantikan oleh sains dan teknologi, tidak terbukti secara empirik pada masyarakat modern ini. Selain itu, anggapan bahwa sains dan teknologi akan mnyebabkan matinya agama juga tidak didukung oleh fakta empirik.

Sebaliknya, fakta menunjukkan bahwa agama dan modernisasi dapat berjalan secara berdampingan, bahkan saling memanfaatkan dan menguatkan. Dengan kata lain, sikap keberagamaan suatu masyarakat memiliki kaitan yang positif dengan kecenderungan mereka untuk mengikuti perkembangan sains dan teknologi.

Tidak diragukan lagi, kehadiran agama di dunia maya internet merupakan indikasi kuat tentang mampunya agama bertahan di zaman postmodern ini. Seperti pandangan Peter Berger (1999), teori sekularisasi secara esensial terbukti keliru karena masyarakat global sekarang masih relijius seperti pada zaman-zaman sebelumnya, bahkan di beberapa tempat keberagamaan mereka lebih meningkat.

Penutup

Fenomena terjadinya migrasi agama ke dunia maya menunjukkan bahwa agama bukan sekedar mampu bertahan menghadapi serbuan modernisasi dan globalisasi, tetapi juga mampu memodifikasi dan memanfaatkan tantangan ini untuk kepentingan dan kebutuhan keagamaanya sendiri. Selain itu, kehadiran agama di internet membuktikan adanya “kelaparan spiritual” (spiritual hunger) yang dialami masyarakat modern, khususnya di negara-negara Barat.


 
 
 

Comments


Asep Iqbal (Nov 2015)

© 2023 by Scientist Personal. Proudly created with Wix.com

  • Facebook Clean Grey
  • Twitter Clean Grey
  • LinkedIn Clean Grey
bottom of page